Xpost | Krisis kedua negara Pakistan dengan Afganistan, menjadi dilema bagi negara Arab yang saling bertikai dari negara tersebut.
Terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan pada Jumat, (26/2/2026). Menyatakan perang terhadap kelompok Taliban, Afganistan.
Ini bukan lagi konflik kecil di perbatasan-ini sinyal eskalasi menuju konflik berskala lebih luas.
Bentrok sengit kini berkecamuk, di Khyber Pakhtunkhwa dan sepanjang Durand Line.
Laporan dari lapangan menggambarkan situasi mencekam:
Rentetan tembakan, artileri berat, hingga serangan udara yang diklaim menghantam basis Taliban.
Versi Pakistan jelas: Taliban disebut lebih dulu memicu konflik dengan menyerang pos militer.
Namun respons Islamabad jauh lebih keras dari biasanya, operasi militer berskala besar.
Baca Juga : Pemimpin Dunia Hadiri Pertemuan Board Of Peace Gaza
Diluncurkan, menandai perubahan dari sekadar pertahanan menjadi aksi ofensif terbuka.
Di balik konflik ini, tersimpan persoalan lama yang tak pernah selesai.
Pakistan menuduh Afghanistan menjadi “safe haven” bagi kelompok militan yang mengancam stabilitas dalam negerinya.
Sebaliknya, Taliban memandang garis Durand Line sebagai batas, yang tidak sah, bom waktu yang kini benar-benar meledak.
Yang paling mengkhawatirkan, konflik ini berpotensi meluas dengan cepat.
Jika eskalasi terus terjadi, bukan tidak mungkin kawasan Asia Selatan kembali terseret dalam pusaran konflik berkepanjangan.
Membuka peluang krisis kemanusiaan dan gelombang pengungsian besar-besaran.
Dunia internasional mulai bereaksi, namun hingga kini belum ada tanda de-eskalasi.
Pertanyaannya: apakah ini hanya tekanan militer
Sementara, atau awal dari perang panjang yang akan mengubah peta geopolitik kawasan?
Baca Juga : Bill Gates Akhirnya Bicara: Akui “Kesalahan Besar”, Isu Lama Kembali Mengguncang
Afghan Taliban dilaporkan membuka tembakan lebih dulu, memicu respons militer Pakistan. (**Dilansir Media Internasional**).


