AS, Xpost | Presiden AS Donald Trump, mendapatkan kritik keras dari Senat AS.
Setelah melontarkan ancaman keras terhadap Iran melalui, platform Truth Social, Selasa, 7 April 2026 (waktu setempat).
Dalam unggahannya, Donald Trump menyatakan akan “menghancurkan seluruh peradaban Iran” jika pemerintah Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat waktu pukul 20.00 ET.
“Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali,” tulis Trump, merujuk pada negara dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa.
Pernyataan tersebut langsung memicu gelombang kecaman dari berbagai kalangan politik di Amerika Serikat, termasuk dari internal Partai Demokrat hingga sejumlah tokoh konservatif.
Kecaman Keras dari Politisi AS
Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, menyebut pernyataan Trump sebagai tindakan berbahaya yang dapat menyeret Amerika Serikat ke konflik besar. Berdasarkan laporan dari The Guardian.
“Ini adalah orang yang sangat tidak stabil. Kita sedang didorong ke perang pilihan yang sembrono,” tegas Schumer.
Baca juga: Pusat Teknologi AI Teheran, Jadi Sasaran Militer AS-Israel
Sejumlah tokoh Demokrat lainnya bahkan, menyebut ancaman tersebut berpotensi sebagai pelanggaran hukum internasional dan kejahatan perang.
Perwakilan Hakeem Jeffries bersama Katherine Clark dan Pete Aguilar mendesak,’ Kongres segera bertindak untuk menghentikan eskalasi konflik.
Isu Pelanggaran Hukum Internasional
Ancaman terhadap infrastruktur sipil dan populasi luas dinilai, bertentangan dengan prinsip hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa 1949.
Pasal 33 Konvensi tersebut secara tegas melarang hukuman kolektif terhadap warga sipil, sementara ketentuan tambahan melarang serangan terhadap fasilitas vital seperti air dan listrik.
Meski demikian, baik Amerika Serikat maupun Iran tidak berada di bawah yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional (ICC), sehingga penegakan hukum menjadi lebih kompleks.
Desakan Amandemen ke-25 Muncul
Kontroversi ini juga memicu kembali seruan, penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden dari jabatannya.
Mantan Ketua DPR, Nancy Pelosi, menyatakan kekhawatiran serius terhadap kondisi kepemimpinan Trump. “Ketidakstabilan ini semakin jelas dan berbahaya,” ujarnya.
Baca juga: Antara Kekuasaan, Ujian Keserakahan di Tengah Gemerlap Duniawi
Bahkan dari kubu konservatif, Marjorie Taylor Greene turut mengejutkan publik dengan menyerukan langkah serupa.
Perpecahan di Internal Partai Republik
Isu Iran kini memperlihatkan perpecahan tajam, di tubuh Partai Republik.
Sebagian politisi tetap mendukung pendekatan militer, namun menolak retorika ekstrem Trump.
Perwakilan Texas, Nathaniel Moran, menegaskan bahwa penghancuran “seluruh peradaban” bukanlah nilai yang dianut Amerika. “Itu bukan jati diri kita,” ujarnya.
Ancaman Eskalasi Global
Dalam konferensi pers sebelumnya di Gedung Putih, Trump juga menegaskan kemungkinan kehancuran besar dalam waktu singkat.
Ia bahkan tidak menampik kemungkinan serangan terhadap infrastruktur vital Iran jika tuntutan tidak dipenuhi.
Di sisi lain, pihak Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali normal bagi AS dan sekutunya.
Baca juga: Pusat Teknologi AI Teheran, Jadi Sasaran Militer AS-Israel
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran dunia akan potensi konflik besar yang dapat berdampak global, termasuk ancaman terhadap stabilitas energi internasional.
Eskalasi retorika dan ancaman militer dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan situasi yang semakin tidak menentu.
Pernyataan Trump tidak hanya memicu reaksi politik domestik, tetapi juga mengundang kekhawatiran internasional.
Terkait kemungkinan pelanggaran, hukum perang dan pecahnya konflik berskala besar. (Dikutip The Guardian).


