Jatim, Xpost | PONDOK AL WAFA, Tempurejo, Jember, hadir dengan konsep pendidikan yang menarik melalui pendekatan “Sekolah Agung”.
Proses belajar yang tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga menjadikan alam sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Pondok yang berada di Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ini dikenal mengembangkan gagasan belajar dan berjalan bersama alam.
Lokasinya berada sekitar empat kilometer dari Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah.
Konsep pendidikan tersebut berupaya membawa peserta didik keluar dari suasana belajar yang monoton. Hutan, sungai, persawahan hingga lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar untuk menemukan pengalaman baru secara langsung.
Melalui pendekatan tersebut, santri tidak hanya menerima pengetahuan secara teori. Mereka diajak mengamati, mencoba, mengeksplorasi, berdiskusi, bekerja sama, sekaligus mengambil pelajaran dari berbagai fenomena yang ditemukan di alam.
Bagi Pondok Al Wafa, alam bukan sekadar tempat untuk melakukan kegiatan luar ruangan. Alam dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan yang mampu menggugah rasa ingin tahu, kreativitas, kemandirian serta kepedulian terhadap lingkungan.
Pembelajaran berbasis pengalaman juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk melihat secara langsung berbagai hal yang sebelumnya hanya mereka temukan dalam buku atau penjelasan di kelas.
Baca Juga: KOPI: Komando Pikiran Kebudayaan Manusantara Bertubuh Bhineka Tunggal Ika Guntur Bisowarno
Perilaku hewan, pertumbuhan tumbuhan, perubahan cuaca, kondisi tanah hingga kehidupan masyarakat di sekitar lingkungan dapat menjadi bahan pengamatan sekaligus pembelajaran.
Dari proses tersebut, santri didorong untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berada di dalam buku. Pengetahuan juga dapat ditemukan melalui pengalaman, pengamatan dan interaksi langsung dengan lingkungan.
Konsep inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas Pondok Al Wafa sebagai lembaga pendidikan yang berusaha memadukan pendidikan agama, pengetahuan umum serta pembelajaran berbasis alam.
Selain kegiatan yang berhubungan dengan alam, pendidikan di SMP Al Wafa juga disebut mengintegrasikan pemanfaatan teknologi dalam proses belajar. Sarana seperti proyektor, komputer dan internet digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Penggunaan teknologi tersebut dipadukan dengan pembelajaran berbasis proyek, eksperimen sains serta observasi lapangan. Dengan demikian, teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi alat untuk memperluas pengalaman belajar peserta didik.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan anak yang memiliki kemampuan akademik. Lebih jauh, pendidikan diarahkan untuk membentuk pribadi yang kreatif, mandiri, mampu bekerja sama, berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat “Sekolah Agung” juga dapat dimaknai sebagai upaya memperluas ruang belajar. Santri tidak hanya diajak memahami ilmu melalui teori, tetapi juga menjalani proses belajar melalui pengalaman dan perjalanan.
Dalam filosofi tersebut, alam ditempatkan sebagai guru yang memberikan pelajaran tentang kehidupan. Setiap perjalanan, pengamatan dan pengalaman dapat menjadi bahan untuk membangun kesadaran bahwa manusia memiliki hubungan erat dengan lingkungan.
Pendekatan itu juga mendorong terbentuknya kemampuan kolaborasi. Santri dapat diajak bekerja bersama dalam menyelesaikan persoalan, membangun sebuah struktur, melakukan dokumentasi maupun menghasilkan karya dari hasil pengamatan mereka.
Pada saat yang sama, pengalaman bersama alam diharapkan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Anak-anak tidak hanya menikmati lingkungan, tetapi juga belajar memahami pentingnya menjaga dan merawat alam.
Konsep tersebut selaras dengan gagasan pendidikan yang menginginkan lahirnya generasi cerdas sekaligus memiliki karakter. Ilmu pengetahuan dipadukan dengan adab, pengalaman hidup serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Dalam perspektif filosofi FPN, semangat Pondok Al Wafa juga dapat dikaitkan dengan nilai KAPAS sebagai simbol adab, PADI sebagai hasil dari lelaku, BINTANG sebagai simbol keesaan, serta DAUN SUKUN sebagai gambaran kepedulian dan pengayoman terhadap alam.
Karena itu, Pondok Al Wafa Tempurejo dapat dilihat sebagai salah satu ruang pendidikan yang mencoba mempertemukan ilmu agama, ilmu umum dan pengalaman langsung bersama alam.
Gagasan “Belajar dan Berjalan Bersama Alam” menjadi pesan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang menjalani dan merasakan.
Pada akhirnya, makna “Sekolah Agung” bukan semata-mata tentang nama atau tempat belajar. Ia merupakan sebuah filosofi bahwa manusia harus terus belajar, berjalan, menjaga keseimbangan dan memahami alam sebagai bagian dari kehidupan.
Baca Juga: Prof Adib: Alarm Ekologis, Feature Lingkungan, Kebudayaan, dan Masa Depan Peradaban
Sebuah pesan yang terangkum dalam semangat: hidup bersama semesta, alam menjadi guru, dan lelaku menjadi bagian dari proses pendidikan.
Sumber: Ketua Bamboo Spirit Nusantara Guntur Bisowarno Dirangkum oleh: Saidi Hartono Ketua Pembina/Penasehat DPD Serikat Praktisi Media Indonesia.


